Gue dulu mikir, jadi ortu yang sering dinas itu pilihan yang egois. Bayangin aja, anak lagi lucu-lucunya, eh kita malah sibuk packing ke bandara. Tapi setelah beberapa tahun jalanin ini, gue sadar satu hal: yang bikin anak ngerasa jauh itu bukan jaraknya, tapi cara kita hadir waktu kita ada.
Nah, buat kamu yang baru mulai dan kebetulan pekerjaanmu bikin sering ninggalin rumah, artikel ini buat kamu. Bukan teori berat soal parenting. Ini panduan langkah demi langkah yang bisa kamu coba mulai dari perjalanan berikutnya.
Langkah 1: Bikin "Ritual Perpisahan" yang Selalu Sama
Anak kecil itu makhluk rutinitas. Mereka tenang kalau tahu apa yang bakal terjadi. Makanya, bikin satu ritual kecil sebelum kamu berangkat — dan ulangi terus tiap kali pergi.
Baca juga: Baru Mulai Jadi Ortu? Cek Dulu 7 Hal Kecil yang Sering Kelewat
Contohnya di rumah gue: sebelum ke bandara, gue selalu peluk anak, tempelkan tangan gue ke dadanya, dan bilang "tangan Papa tinggal di sini sampai Papa balik." Kedengeran cringe? Mungkin. Tapi anak gue yang sekarang tujuh tahun masih inget dan minta ritual itu tiap gue mau pergi.
Baca Juga: ejserver.com
Kuncinya bukan dramatis atau nggak. Kuncinya konsisten. Ritual yang sama bikin anak punya jangkar. Dia tahu perpisahan itu sementara, bukan hilang.
Langkah 2: Siapkan Tiga "Barang Jembatan"
Ini inti dari judul di atas. Ada tiga barang murah yang gue selalu bawa atau tinggalin tiap pergi dinas:
- Foto kecil yang bisa dia pegang. Bukan foto di HP — anak butuh yang bisa disentuh. Cetak satu, laminating, taruh di tas sekolahnya atau samping kasurnya.
- Benda "milik berdua". Misalnya satu buku cerita yang cuma dibaca lewat video call, atau satu kaos yang kamu pakai waktu video call supaya dia kenal. Anak butuh objek fisik untuk mengikat memori.
- Suvenir kecil yang kamu bawa pulang. Nggak perlu mahal. Batu dari pantai, tiket bioskop lokal, atau kopi sachet dari hotel. Yang penting ada cerita di baliknya.
Gue pernah bawa pulang kerikil dari pantai di Makassar. Anak gue simpan sampai sekarang di kotak sepatu. Buat dia, itu bukan kerikil — itu bukti Papa inget dia walau jauh.
Langkah 3: Jadwalkan "Jam Anak" Sebelum Berangkat
Ini yang sering kelewat. Ortu sibuk banget sebelum berangkat — kerjaan numpuk, packing belum, dokumen belum. Akhirnya waktu sama anak jadi sisa-sisa, bukan prioritas.
Coba deh, satu hari sebelum berangkat, blok 1-2 jam khusus buat anak. Nggak usah ke mal atau tempat mahal. Cukup di rumah: main lego, masak bareng, atau nonton film yang dia pilih. Yang penting HP kamu diem.
Anak nggak butuh ortu yang selalu ada 24 jam. Anak butuh ortu yang waktu ada, benar-benar ada.
Gue belajar ini dari kesalahan. Dulu gue pikir cukup video call tiap malam. Ternyata anak lebih inget momen "Papa main sama aku sebelum pergi" daripada 30 menit video call yang setengahnya gue sambil buka laptop.
Gimana kalau anaknya masih balita?
Buat anak di bawah tiga tahun, konsep "Papa pergi kerja" itu abstrak. Solusinya: bikin kalender visual. Tempel foto kamu di tanggal-tanggal kamu pergi, dan foto kamu balik di tanggal pulang. Tiap pagi, anak bisa coret tanggalnya sendiri. Ini bantu dia ngerti waktu dan bikin rasa cemas berkurang.
Langkah 4: Video Call yang Nggak Cuma "Udah Makan?"
Video call itu penting, tapi kalau isinya cuma tanya jawab formal, anak bakal bosan dan lama-lama males. Coba ganti polanya.
Daripada nanya "gimana sekolah?", coba main game kecil lewat call. Tebak-tebakan, tunjukin kamar hotel, atau baca buku bareng. Anak butuh interaksi, bukan interogasi.
Yang juga penting: jangan janjiin call kalau nggak yakin bisa. Anak kecil itu nggak ngerti "Papa sibuk meeting." Yang dia ngerti cuma "Papa janji tapi nggak nelpon." Kekecewaan kecil yang diulang terus bisa jadi luka.
Langkah 5: Siapkan "Ritual Kepulangan"
Banyak ortu fokus ke perpisahan, lupa kalau kepulangan juga butuh ritual. Anak bisa ngerasa canggung atau malah ngambek waktu kamu balik, karena dia udah terbiasa tanpa kamu.
Bikin ritual kecil: pelukan panjang di pintu, kasih suvenir sambil cerita, atau langsung main 15 menit tanpa nanya apa-apa dulu. Beri anak waktu buat "menyesuaikan diri" lagi sama kamu.
Gue selalu sisihin waktu setengah hari setelah pulang buat anak — nggak langsung balik ke laptop atau kerjaan. Ini sinyal ke dia: kamu lebih penting dari inbox.
Yang Perlu Kamu Ingat: Konsistensi Menang dari Intensitas
Kamu nggak perlu jadi ortu super yang selalu ada. Kamu cuma perlu jadi ortu yang bisa diandalkan — yang ritualnya konsisten, yang janjinya ditepati, yang kehadirannya utuh walau singkat.
Anak itu nggak ngukur cinta dari jumlah hari. Dia ngukur dari rasa aman. Dan rasa aman itu dibangun dari hal-hal kecil yang kamu ulang terus-menerus, walau kamu sering jauh.
Jadi, buat perjalanan dinas berikutnya, coba bawa tiga barang tadi. Sederhana, murah, tapi dampaknya bisa kamu rasain bertahun-tahun kemudian.