Ada satu pemandangan yang sering gue lihat waktu pulang ke kampung halaman. Di teras rumah, seorang bapak sibuk membetulkan motor, sementara anaknya duduk diam di kursi panjang, main HP tanpa suara. Nggak ada obrolan, nggak ada tawa. Padahal mereka duduk cuma sejengkal jaraknya. Kalau ditanya, si bapak pasti bilang, "Anak saya kalem, nggak rewel." Tapi kalem dan tertutup itu beda tipis, lho. Dan sering kali, bedanya ditentukan oleh satu hal yang sepele tapi jarang dibahas: pilihan gaya asuh.
Nah, di tulisan ini gue mau bahas dua gaya asuh yang paling sering bikin orang tua di kota kecil dan desa kebingungan. Bukan teori dari buku tebal, tapi yang benar-benar kejadian di sekitar kita.
Dua Kubu yang Sering Berdiri Berseberangan
Kalau kamu ngobrol soal ngasuh anak di pos ronda atau arisan RT, biasanya orang langsung terbelah jadi dua kubu. Kubu pertama: gaya asuh tegas. Pokoknya anak harus nurut, ada aturan jelas, ada konsekuensi kalau melanggar. Kubu kedua: gaya asuh lembut. Anak dibiarkan berekspresi, orang tua lebih banyak mendengar daripada memerintah.
Baca juga: Pensiunan Sering Ditanya: Masih Perlu Ngurus Anak yang Sudah Dewasa?
Baca Juga: championthisyear.com
Masalahnya, dua kubu ini sering saling menghakimi. Yang tegas bilang yang lembut itu "manja, nanti anaknya jadi berani sama orang tua". Yang lembut balas bilang yang tegas itu "otoriter, anaknya jadi takut dan nggak dekat sama keluarga". Ujung-ujungnya, orang tua yang masih baru belajar jadi bingung sendiri. Mau ikut yang mana?
Gue pernah ada di posisi ini. Waktu anak pertama gue masih balita, gue ikut gaya tegas karena itu yang gue lihat dari orang tua gue dulu. Setiap kali anak rewel, gue langsung pasang muka serius dan bilang "jangan nangis, nggak boleh". Hasilnya? Anak berhenti nangis, tapi matanya jadi aneh. Dia belajar menahan perasaan, bukan mengungkapkannya. Dan itu baru gue sadari setahun kemudian, waktu dia lebih memilih diam di kamar daripada cerita apa-apa ke gue.
Kenapa Dua-Duanya Bisa Bikin Anak Jauh
Ini yang jarang disadari. Baik gaya tegas maupun gaya lembut, kalau dijalankan secara ekstrem, sama-sama bisa bikin anak menjauh dari keluarga. Bukan karena orang tuanya jahat, tapi karena ada satu hal yang hilang di dua-duanya.
Gaya tegas yang kebablasan bikin anak nurut karena takut, bukan karena paham. Dia patuh di depan, tapi di belakang bisa jadi lain. Yang lebih bahaya, anak jadi terbiasa menyembunyikan masalah karena takut dimarahi. Di kampung, ini sering kelihatan: anak yang di rumah kelihatan penurut, tapi di luar suka bikin ulah. Bukan karena dia nakal, tapi karena dia nggak punya ruang buat jujur di rumah.
Gaya lembut yang kebablasan juga nggak kalah repot. Kalau semua dibolehkan dan nggak ada batas, anak jadi bingung mana yang boleh dan mana yang nggak. Dia nggak belajar konsekuensi, dan lama-lama nggak menghargai aturan keluarga. Waktu beranjak remaja, dia bisa jadi susah diatur, bukan karena dia buruk, tapi karena nggak pernah diajari di mana garisnya.
Yang bikin anak dekat bukan tegas atau lembutnya, tapi apakah dia merasa aman buat jujur sama orang tuanya.
Jalan Tengah yang Sering Dilewatkan Orang Tua di Kampung
Gue bukan mau bilang harus pilih 50 persen tegas, 50 persen lembut. Itu kedengeran rapi di seminar parenting, tapi di rumah mah nggak sesederhana itu. Yang lebih masuk akal: tegas pada aturan, lembut pada perasaan. Dua hal ini bisa jalan bareng, kok.
Contoh kecil yang gue praktikkan sekarang. Kalau anak gue pulang sore lewat dari jam yang disepakati, gue tetap tegas: nggak boleh main lagi besok. Aturannya jelas, konsekuensinya jelas. Tapi waktu dia cerita kenapa telat, gue dengerin dulu tanpa motong. Kadang alasannya sepele, kadang masuk akal. Yang penting dia tahu, aturan itu ada bukan buat menghukum, tapi buat menjaga dia.
Bedanya terasa banget. Dulu, setiap kali gue tegas, anak gue langsung diam dan menghindar. Sekarang, dia masih bisa ngambek, tapi besoknya cerita lagi. Itu tandanya dia masih merasa aman. Dan buat gue, rasa aman itu lebih berharga daripada anak yang kelihatan penurut di depan tamu.
Hal Kecil yang Bisa Kamu Coba Minggu Ini
- Pisahkan aturan dari emosi. Kalau anak melanggar, tegur aturannya, bukan pribadinya. "Kamu telat, ini nggak sesuai kesepakatan" beda banget sama "kamu memang anak yang susah diatur".
- Dengerin dulu, komentar belakangan. Waktu anak cerita, tahan diri buat nggak langsung menasihati. Cukup angguk dan tanya "terus gimana?". Sering kali anak cuma butuh didengar, bukan dikuliahi.
- Beri ruang buat salah. Anak yang takut salah bakal memilih bohong. Anak yang tahu salah itu wajar, tapi ada konsekuensinya, bakal lebih jujur.
- Jangan konsisten cuma di depan orang. Banyak orang tua tegas kalau ada tamu, tapi lembek kalau cuma berdua. Anak itu pintar, dia hafal pola ini.
Gue nggak bilang ini gampang. Sampai sekarang pun gue masih sering kelepasan marah, masih sering nggak sabar. Tapi setidaknya gue tahu arah yang mau gue tuju: bukan anak yang takut sama gue, tapi anak yang mau cerita apa pun ke gue, termasuk hal-hal yang bikin gue nggak nyaman dengar.
Jadi kalau kamu di kampung atau kota kecil, dan lagi bingung antara mau tegas atau lembut, coba berhenti sebentar. Pertanyaannya bukan "mana yang lebih benar", tapi "gaya mana yang bikin anakku merasa aman buat jujur". Jawabannya bisa beda-beda tiap keluarga. Tapi selama arahnya ke sana, kamu nggak akan terlalu jauh melenceng.
Dan kalau suatu hari anakmu lebih memilih diam di teras sambil main HP, jangan langsung bilang dia kalem. Coba dekati, duduk di sebelahnya, dan tanya satu hal sederhana. Siapa tahu, dari situ obrolan pertama dimulai lagi.